Gratis Joomla Templates by Hostmonster Coupon
Launching Our Latest Product : eMedWeb ++++ New Release : eMedWeb Laboratory Information System (LIS)

70% Orang Kaya Indonesia Berobat ke Luar Negeri

Category: Uncategorised Published on Tuesday, 11 March 2014 Written by Ronny Loekito

[JAKARTA] Sebagian besar atau hampir 70% (dua pertiga dari total pasien) orang Indonesia yang secara finansial mampu, cenderung memilih berobat ke luar negeri. Enam puluh persen di antaranya adalah etnis Tionhoa, yang berusia 31-50 tahun. Hal ini kemungkinan dikarenakan minimnya komunikasi efektif antara tenaga kesehatan atau managemen di rumah sakit dengan pasien belum sesuai yang diharapkan.

Demikian benang merah dalam seminar nasional bertemakan "Kiat Membangun Rumah Sakit Indonesia Yang Tangguh di Era Persaingan Global" dalam rangakaian HUT ke-61 RSPAD Gatot Subroto, di Jakarta, Kamis (6/10). Hadir sebagai pembicara dan peserta adalah wakil dari Kementerian Kesehatan, tenaga kesehatan, direktur dan managemen rumah sakit di Indonesia dan pengamat kesehatan.

Menurut Manager Pemasaran RSPAD Gatot  Soebroto drg.Rizal Rivandi, sebenarnya secara sumber daya manusia dan peralatan rumah sakit, Indonesia tidak kalah dengan negara maju lainnya. Hampir semua rumah sakit di kota-kota besar sudah memiliki alat-alat canggih dan dokter yang kompetitif.

Namun di tengah persaingan global saat ini, setiap orang bebas untuk mencari layanan kesehatan yang dianggap paling baik.

"Mungkin karena secara psikologis pelayanan di rumah sakit kita belum mengistimewakan pasien. Mengistimewakan pasien tidak hanya dilakukan antara pribadi tenaga kesehatan dengan pasien, tetapi juga secara tim," katanya.

Di sisi lain, antara rumah sakit di Indonesia pun terjadi persaingan tidak sehat. Masih ada persepsi rumah sakit di sekitarnya adalah kompetitor atau pesaingnya. Misalnya, dalam hal pengadaan alat kesehatan canggih, semua rumah sakit berlomba-lomba untuk memilikinya tanpa mempertimbangkan efisiensinya.

Sebenarnya, kata dia, tujuan rumah sakit itu adalah agar pasien mendapatkan layanan lebih baik. Tetapi karena peralatan yang sama terbagi ke berbagai rumah sakit, jumlah pasien yang menggunakan alat tersebut pun sedikit. Bahkan tidak menutup kemungkinan, karena kurang efisien, terutama rumah sakit kecil bisa mengalami kebangkrutan.

Karena itulah seminar nasional kali, dan selanjutnya akan rutin dalam tiga bulan sekali, yang bertujuan untuk mengubah pola pikir rumah sakit dan SDM-nya.

Selain itu, saling berbagi informasi mengenai alat-alat kesehatan di masing-masing rumah untuk disampaikan kepada pasien, sehingga pasien tidak perlu ke luar negeri.

"Kita ingin paradigma itu diubah, bahwa yang menjadi kompetitor adalah rumah sakit di luar negeri bukan yang di dalam negeri. Yang ada di Indonesia adalah teman, karena kita tahu tidak ada rumah sakit yang sempurna, jadi yang kelebihan melengkapi yang kekurangan. Dengan demikian pasien puas, dan tidak perlu ke luar negeri," ungkapnya.

Ia mengemukakan, seharusnya yang menjadi kompetitor adalah rumah sakit di luar negeri. Antar rumah sakit dalam negeri seharusnya bermitra dan bersinergi  untuk memberikan pelayanan maksimal bagi masyarakat Indonesia. Menarik kembali 50% saja pasien yang berobat ke luar negeri, sudah merupakan prestasi.

Sementara pengamat kesehatan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM-UI) Prof Hasbullah menambahkan, persaingan tidak sehat antar rumah sakit tidak bisa dielakan di era pasar bebas seperti sekarang ini. Namun sebenarnya pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan untuk mengatur dan menertibkan. Akan tetapi kebijakan itu belum ada, sehingga persaingan dalam layanan kesehatan semakin liar.

Misalnya diatur minimal sejumlah rumah sakit memiliki alat yang sama, tetapi lainnya memiliki berbeda. Untuk mengatur hal ini memang butuh komitmen dari pemerintah.[D-13]

 

SUMBER : http://www.suarapembaruan.com/home/70-orang-kaya-indonesia-berobat-ke-luar-negeri/12158

Hits: 1294