Gratis Joomla Templates by Hostmonster Coupon
Launching Our Latest Product : eMedWeb ++++ New Release : eMedWeb Laboratory Information System (LIS)

Ekosistem Pengembangan Software Indonesia

Category: Uncategorised Published on Thursday, 30 January 2014 Written by Ronny Loekito

Secara statistik, Indonesia adalah salah-satu negara di Asia Pasifik dengan total populasi yang tinggi (>234 juta). Didukung dengan banyaknya jumlah pendidikan tinggi teknologi informasi (-359 institusi) yang ada saat ini, Indonesia sangat berpotensi menjadi pemain penting dalam industri software Asia Pasifik,  bukan hanya sebagai konsumer tetapi juga produsen. Menurut predikasi, sekitar 130.000 lulusan pendidikan tinggi TI dihasilkan setiap tahun. Akan tetapi,kenyataan yang terjadi jauh dari prediksi statistik, jumlah software lokal yang berhasil diterima oleh pasar lokal tidak lebih dari 20 paket produk. Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah produk software komersial dari beberapa negara tetangga seperti Singapura dan Ma
laysia sudah beredar di pasar Indonesia. Walaupun dimulai dari beberapa segmen vertikal, kecenderungan ini akan merambat ke segmen horisontal dan konsumer jika tidak diantisipasi dengan baik.

Jumlah perusahaan pengembang software (ISV, Independent Software Vendor) adalah indikator utama yang menunjukkan kemampuan produksi software di suatu negara. Menurut prediksi IDC, di Indonesia ada sekitar 56,5 ribu developer pada 2006. India berada di urutan pertama dengan lebih dari 1 juta developer dan Cina di urutan kedua dengan jumlah de¬veloper 10 kali lebih besar dibanding Indonesia. Yang menarik dari data IDC adalah Malaysia dan Singapura ternyata mampu memproduksi soft¬ware lebih banyak dibanding Indo¬nesia walaupun jumlah developernya lebih kecil. Ini menunjukkan bahwa kuantitas bukan merupakan faktor penentu produktivitas. Banyak hal yang mungkin men jadi penyebab rendahnya produktivitas pengembang software lokal Indonesia. Salah-satunya adalah karena perusahaan pengembang software (ISV) tidak fokus pada model bisnis berbasis produk, tetapi juga menerima pekerjaan custom application yang biasanya dilakukan oleh System Integrator (SI). Akibatnya adalah, banyak produk potensial yang tidak pernah mampu mencapai tingkat maturity yang harapkan pasar, balk dari sisi proses bisnis maupun kualitas internal aplikasi. Kualitas developer, pemahaman tentang kebutuhan pasar, akses terhadap kapital dan proteksi terhadap hak kekayaan intelektual lokal juga merupakan faktor yang berpengaruh. Berbagai faktor ini saling terkait satu sama lain sehingga diperlukan program kerja terpadu serta strategik untuk mengatasinya. Selain pemain di industri, perlu peran serta pemerintah untuk mencari solusi terbaik.

Potensi kontribusi industri software lokal untuk pertumbuhan ekonomi juga menarik untuk ditelaah. Menurut hasil riset IDC, inisiatif software lokal mampu memberi pertumbuhan ekonomi yang Iebih balk bagi negara berkembang seperti Indonesia. IDC memprediksi dalam periode 2004-2009, sektor teknologi informasi (TI) di Indonesia akan membutuhkan sekitar 1.100 perusahaan TI baru yang dapat menyerap 81.000 tenaga kerja. Sekitar 29.9% dari total pekerja TI ini akan terlibat dalam pengembangan produk software lokal, distribusi atau implementasi produk software asing dan juga layanan custom development. IDC juga memprediksi bahwa perkembangan bisnis TI di Indonesia akan memberikan penghasilan pajak sebesar U$$1,1 miliar kepada pemerintah jika dikelola dengan serius.

Pengamatan yang kami lakukan terhadap ekosistem dan komunitas pengembang software lokal cukup memberi harapan. Inisiatif untuk menumbuhkan semangat komersial software mulai terlihat lagi di komunitas ISV developer di Indonesia. Salah-satu yang menonjol adalah program Bina-ISV yang dipelopori oleh Microsoft Indonesia sejak Mei2006. Program ini mendapat dukungan dari beberapa instansi pemerintah seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kementrian Riset dan Teknologi, serta Departemen Komunikasi dan Informatika. Juga dari Intel dan Astra International. Keterlibatan korporat seperti Astra International dalam Bina-ISV adalah untuk membentuk ISV cluster (gugus) yang diharapkan mampu memiliki keahlian spesifik pada satu jenis industri. Astra International berperan sebagai induk bagi ISV cluster dengan cara membuka kesempatan bagi ISV lokal untuk mempelajari proses bisnis yang kompleks di perusahaannya. Menurut Agus Kurniawan, salah-satu software arsitek di Astra International, pengetahuan tentang bisnis proses sangat penting untuk mengembangkan produk yang bisa diterima pasar dan pengetahuan tersebut hanya dimiliki oleh enterprise. Selain proses bisnis, dibutuhkan juga kepiawaian dalam hal memahami bagaimana sebenarnya teknologi bekerja, bukan hanya sekadar menulis kode program.

Bina-ISV (www.binaisv.net) adalah program pemberdayaan ISV untuk mendorong lahirnya inovasi-inovasi baru di Indonesia khususnya produk software. Bina-ISV terdiri dari tiga pilar utama, Skill Accelerator, Partnership Accelerator, dan Innovation Accelerator. Sejak Mei 2006, training ISV Accelerator telah dilakukan di LIPI Jakarta dan MTI-UGM Yogyakarta. Setiap bulannya sekitar 50 developer berhasil dilatih secara intensif di kedua lokasi tersebut. Hingga saat ini sekitar 5 p’roduk lokal berhasil dikembangkan oleh komunitas Bina-ISV. Materi training ISV Accelerator bersifat dinamis karena diperbaharui setiap dua bulan.

Komunitas INDC (Indonesia .NET Developer Community) juga merupakan bagian penting dalam pertumbuhan ekosistem software developer di Indonesia. Sebagai organisasi nonprofit yang telah tergabung dalam International .NET Association (INETA), INDC merupakan komunitas developer terbesar di Indonesia bahkan di Asia Pasifik. Sejak didirikan pada 2003, INDC saat ini telah memiliki sekitar 10.000 anggota. Salah-satu pendiri INDC, Tahir Tahang, yang juga pengajar di Bina-ISV, menjelaskan bahwa komunitas INDC memiliki kekuatan yang unik. INDC adalah sekumpulan profesional dengan ketertarikan yang sama, yang bergabung secara sukarela dan saling membantu. Sepuluh community leader dari INDC berhasil memperoleh penghargaan sebagai Most Valuable Professional (MVP) dari Microsoft Corporation dan beberapa di antaranya telah berkiprah sampai ke luar negeri. Tahir Tahang menambahkan bahwa, selama memiliki fokus dan visi yang kuat, energi dalam komunitas dapat melakukan perubahan yang sifatnya global. Selain mailing list, aktivitas online INDC juga tersebar pada beberapa portal sebagai berikut:
• Portal Utama INDC, www.netindonesia.net
• Portal INDC Blogs, http://geeks.netindonesia.net
• Portal Proyek e-Book Gratis, http://otak.csharpindonesia.net
• Portal DNN Indonesia. http:// www.dnnindonesia.net

Skenarionya adalah inovasi dan pengembangan produk akan mulai bergerak ke Asia Pasifik dan dipimpin oleh Korea Selatan, Taiwan, Cina, dan India. Gartner meramalkan dalam 10 tahun ke depan (2005-2015), kebutuhan dipasar regional akan berubah dari filosofi product-based ke service-based. Vendor internasional dari Amerika Serikat dan Eropa seperti biasanya akan terus mendorong inovasi dalam bentuk paket produk yang nantinya akan dijual dan didistribusikan ke pasar Asia Pasifik.

Disisi lain, perusahaan-perusahaan dari Asia Pasifik akan mulai bekerja sama dengan vendor internasional untuk mengembangkan Software as Service (SaS) yang ditujukan khusus untuk konsumsi seluruh dunia. Didukung dengan hadirnya paradigma arsitektur Service-Oriented, ketika region Asia Pasifik telah menjadi pusat inovasi, akan terjadi perubahan besar bagaimana software dikonsumsi dan dijual. Dondy Bappedyanto, salah-satu Independent Software Architect ternama di Jakarta mengatakan bahwa Indonesia memiliki potensi untuk terlibat dalam skenario ini jika pemerintah mampu memperbaiki infrastruktur internet yang se-lama ini telah jauh tertinggal. Sebagai perbandingan, di Singapura, seseorang dapat memiliki 10Mbps akses ke internet hanya dengan biaya sekitar 400 ribu rupiah per bulan. Selain infrastruktur di Indonesia yang masih belum mendukung, mindset dari pengambil keputusan yang masih ragu mem percayakan data perusahaannya kepada perusahaan lain (service provider) juga merupakan salah-satu kendala tersendiri.

Selama ini yang bisa dilakukan oleh pemain di industri TI adalah berusaha untuk menggalakkan semangat pengembangan software lokal sambil menunggu inisiatif nasional yang lebih menguntungkan. Semoga dalam beberapa tahun kedepan, kita bisa melihat perubahan yang besar pada ekosistem TI.

SUMBER : http://www.comlabs.itb.ac.id/blog/2008/03/19/risman-adnan-ekosistem-pengembangan-software-indonesia/

Hits: 1328